Minggu, 07 Oktober 2012

Banyak pembaca Alquran, Namun Dikutuk Alquran

  Copas dari Blog. Agus As




Dari buku: Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya
Aforisme-Aforisme Sufistik Jalaluddin Rumi
halaman 133 “Banyak pembaca Alquran, Namun Dikutuk Alquran”
Diterbitkan oleh Pustaka Hidayah
Cetakan pertama, Rajab 1421/Oktober 2000

Ibn Muqri membaca Alquran dengan bacaan yang benar. Dia membaca bentuk Alquran dengan benar, tetapi dia tidak mendapatkan petunjuk maknanya. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa ketika dia sampai pada makna, dia menolaknya. Dia membaca tanpa pengetahuan. Dia “buta”. Dia seperti manusia yang memegang musang dengan tangannya. Apabila ditawari yang lebih baik, dia akan menolaknya. Kita kemudian sadar dia tidak tahu apa-apa tentang musang. Ketika seseorang mengatakan kepadanya bahwa apa yang dia miliki adalah musang, dia memegang binatang itu. Atau seperti seorang anak yang bermain dengan buah kenari: apabila ditawari kenari minyak atau kenari isi, mereka akan menolaknya. Karena bagi mereka kenari adalah sesuatu yang berputar dan membuat suara bising, dan dia akan menolak benda lain yang tidak berputar dan membuat suara bising.
Gudang harta karun Tuhan sangat luas dan tak terbatas, begitu pula pengetahuan Tuhan. Apabila seorang manusia membaca satu Alquran dengan pengetahuannya, kenapa mesti menolak Alquran yang lainnya ?
Suatu saat aku pernah berkata kepada seorang pembaca Alquran, “Tuhan telah berfirman dalam Alquran, Katakan, apabila lautan adalah tinta untuk menulis kata-kata Tuhan, sesungguhnya laut tak akan cukup untuk menuliskan kata-kata Tuhan (QS.18:109). Sekarang dengan lima puluh dram (1/8 ons) tinta orang mungkin mampu untuk menuliskan seluruh isi Alquran. Alquran hanyalah sekedar perlambang dari pengetahuan Tuhan; Alquran bukan keseluruhan pengetahuan-Nya. Apabila tukang obat meletakkan sejumput obat pada selembar kertas, akankah engkau demikian bodoh mengatakan seluruh dari toko obat berada dikertas itu ? Pada zaman Musa, Isa, dan lainnya, Alquran telah hadir. Yakni, firman Tuhan telah hadir, tentu saja tidak dalam bahasa Arab. “Aku berharap bahwa orang-orang yang membaca Alquran akan memahaminya. Tetapi ketika aku sadar bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa, aku meninggalkannya.”
Diriwayatkan bahwa sewaktu Nabi hidup, sahabat yang hapal sebuah juz atau setengah juz Alquran dianggap luar biasa dan menjadi sasaran kekaguman. Hal ini terjadi karena mereka “menelan” Alquran. Sekarang siapa pun yang mampu menelan satu atau dua pon roti dapat dikatakan luar biasa, tetapi orang yang sekedar meletakkan roti didalam mulutnya lalu menyemburkannya tanpa mengunyah, dia mampu “menelan” ribuan ton roti. Hal ini sesuai dengan sebuah ungkapan yang berbunyi, “Banyak pembaca Alquran, namun dikutuk Alquran.” Orang seperti itu adalah orang yang tidak sadar tentang makna sejati Alquran.

1 komentar:

Andi Lau mengatakan...

Makasih kak. Telah memberi penjelsan yang luar biasa mengenal kitab suci Al-Quran. Semoga pembaca dan penulisnya diberi hidayah dari Allah YME. jangan lupa kunjungi website saya ya kak di http://www.atmaluhur.ac.id. Saya Andi Lau dgn NIM 1722500181.