Jumat, 14 September 2012

RUHANIAH, DIRI SEJATI
Bahaya terbesar dan dalam arti tertentu juga dosa terbesar bagi manusia terletak di dalam kecenderungan untuk meninggalkan bagian ruhaniahnya, melupakan bahwa ia “dihormati oleh Tuhan.”

Mereka begitu sibuk dengan urusan-urusan duniawinya

sehingga lupa untuk mengembangkan dirinya yang sejati, bagian yang diberikan sebagai hadiah istimewa dari Tuhan, yang “ditiupkan kepadanya dari nafas-Nya sendiri (Q.S. 15: 29), seperti dinyatakan Alquran beberapa kali. Amanah Ilahi, “kebaikan yang dipercayakan” itulah unsur yang paling penting dan pada saat yang sama paling membahayakan di dalam manusia, seperti dikatakan Q.S. 33: 72 “Sesungguhnya Kami menawarkan amanah kepada gunung-gunung dan langit dan tanah dan mereka tidak menerimanya, tetapi manusia menerimanya, dan sesungguhnya ia bebal, kejam.”

Karena manusia tidak tahu apa yang sedang diterimanya, atau betapa beratnya beban yang akan ditanggung (dan sesungguhnya para teolog Muslim dan mistikus telah mempertimbangkan dengan seksama di sepanjang zaman, apa persisnya “amanah yang dipercayakan” ini).

Bagi Jalaluddin Rumi amanah adalah pemberian tanggung jawab, pilihan bebas, kemampuan manusia mengenal aspek-aspek ruhaniah adanya dan mengembangkannya. Orang yang melupakan atau meninggalkan amanah berada dalam posisi yang berbahaya; mereka mungkin berlari mengejar ratusan pengejaran yang berbeda, tetapi selama mereka tidak peduli pada pemberian Ilahi yang indah yang mereka bawa di dalam dirinya, yang tersembunyi seperti piala emas di dalam sebuah karung yang penuh dengan jerami, atau sebutir permata ditumpukan kotoran – selama mereka meninggalkannya atau bahkan tidak menyadarinya, maka tak ada yang berharga.

- Dari buku DUNIA RUMI – Hidup dan Karya Penyair Besar Sufi
Halaman: 113 - 114
Oleh: Annemarie Schimmel
Penerbit: Pustaka Sufi
----------------------------------------

Apapun yang kita pikirkan dapat binasa.
Yang tidak dimasuki oleh pikiran, itulah Tuhan.

Hewan-hewan kecil yang hidup di bawah tanah tidak mempunyai mata atau telinga,
karena mereka tidak membutuhkannya. Demikian pula, Allah membiarkan orang tertentu tanpa indra batin alat untuk mencapai-Nya, karena Dia tahu bahwa mereka lebih bahagia di dalam kegelapan dunia ini dan hanya akan mendapat malu jika mereka dapat melihat apa yang ada di belakangnya.

Allah adalah harta rahmat, yang tiada habisnya, sebagaimana Dia adalah harta karun keindahan. Keindahan ini mencerminkan diri di dalam dunia, yang dapat dilihat sebagai sebuah cermin bagi-Nya, asalkan orang melihat pada sisi yang berpaling kearah Tuhan, karena sisi belakangnya tidak berharga, sekalipun hiasan-hiasan yang ada pada sisi cermin itu mungkin tampak menarik bagi orang yang hanya melihat permukaan.

Tidak ada komentar: