Jumat, 14 September 2012

Hakikat dan Ma'rifat

Copas dari catatan : Agus As pada 28 Juli 2012 pukul 3:44 ·


Catatan ini saya ambil dari buku: Hakikat dan Ma’rifat, yang sempat saya salin (ringkas) dari buku milik teman saya pada tahun 1993. Pengarang dan keterangan lebih lanjut dari buku ini tidak tercatat dengan saya. Dan saya harap hanya untuk dibaca sendiri (tidak di bagikan) karena catatan ini tidak lengkap keterangan siapa pengarangnya. Boleh dicopi untuk diri sendiri atau untuk didiskusikan pada temannya atau Guru Tarekatnya yang seorang Sufi atau Ulama Tasawuf jika memang mempunyai nya.

- Agus -
--------------------------------------------------------

Hadist Rasulullah: Dari Ibnu Umar ra, berkata:
Rasulullah saw memegang pundakku kemudian bersabda,  
“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang yang lewat di jalan (perantau)”.

Orang yang sempurna akal nya adalah orang yang lebih suka dengan apa yang lebih kekal, dari apa yang akan rusak, karena telah terang hatinya (cahayanya) dan berseri-seri dari wajahnya.

Sesungguhnya manusia dalam menghadapi nikmat Allah itu terbagi menjadi 3 (tiga) bagian:

1.   Orang yang lalai kepada Allah dengan kelalaian yang sangat memuncak, orang ini sangat kuat inderanya sehingga mata hatinya tak bersinar maka dia selalu melihat kebaikan (itu) datangnya dari makhluk, bukan dari Allah penguasa sekalian alam, jika yang demikian itu berupa I’tikad, maka syiriknya sudah jelas (artinya dia itu termasuk orang musyrik) tetapi kalau yang demikian itu hanya sandaran saja (artinya pemberi kebaikan itu adalah Allah) maka syiriknya termasuk samar.

2.   Orang ahli hakikat (khash) yaitu orang yang langsung melihat Allah (dengan penglihatan mata hatinya (batin) sehingga ia melupakan mahkluk, dia telah melenyapkan sebab musabab karena telah melihat Dzat yang menentukan sebab (Allah) dia itu adalah hamba yang telah menghadap dihadapan Allah, yang telah berjalan menuju thoriqoh hingga benar-benar dia itu telah tenggelam dalam cahaya tauhid yang dapat menghapus mata hatinya dari melihat makhluk, hilangnya rasa keduniaan telah mengalahkan kegairahannya kepada dunia, pertemuannya dengan Allah telah mengalahkan perasaannya bercampur dengan makhluk dan hilangnya keadaan makhluk dari penglihatannya telah mengalahkan hadirnya bersama makhluk.

3.   Dan yang paling sempurna dari padanya adalah hamba yang telah minum karunia Allah dalam cahaya tauhidnya, maka menjadi bertambahlah kesadarannya dan hilang penglihatannya kepada makhluk dan tidaklah penglihatannya kepada makhluk bisa menghalangi pertemuannya dengan Allah dan tidaklah lenyap dirinya di dalam Dzat Allah itu menghalangi perasaannya yang tetap bercampur dengan makhluk dan tidak pula perasaannya yang tetap bercampur dengan makhluk bisa menghalangi kelenyapan dirinya di dalam Dzat Allah. Dia berikan kepada setiap yang punya bagian akan bagiannya dan dipenuhi kepada setiap yang punya hak akan haknya.
Golongan kedua dan ketiga inilah adalah golongan khoshul khash yaitu golongan yang telah mendapat derajat yang paling utama.


Ketika Syaikh Ibn Athoillah ditanya mengenai sabda Rasulullah yang artinya: “Telah dijadikan kepuasanku didalam sholat”
Apakah yang demikian ini khusus bagi Rasulullah ataukah untuk umum dari semua umatnya juga mendapat bagian?

Kemudian Syaikh Ibnu Athoillah menjawab: “Sesungguhnya kesenangan (kepuasan) melihat Allah itu menurut kadar Ma’rifatnya terhadap apa yang dilihat, sedang ma’rifat Rasulullah saw itu tidak bisa disamakan dengan Ma’rifatnya orang lain (seperti perintahnya beliau sendiri Nabi Muhammad saw) yaitu:
“Awalludini ma’rifatullahi ta’ala”.
Artinya: Awal-awalnya agama itu harus mengetahui (ma’rifat) lebih dahulu kepada Allah ta’ala.

Maka tidak ada kesenangan seperti kesenangan Beliau. Sebab menyaksikan kebesaran yang dilihatnya, karena Nabi sendiri telah mengisaratkan dalam sabdanya: “Didalam sholat”. Beliau tidak mengatakan: “Dengan sholat”. Karena Beliau tidak akan merasa puas hatinya selain Tuhannya. Bagaimana tidak demikian. Padahal Beliau sendiri menganjurkan untuk mencapai tingkat itu (ma’rifat) dalam sabdanya:
“Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihat kepada-Nya”

Apabila orang berkata: “Kadang-kadang kepuasan itu dapat diperoleh dengan sholat karena sholat itu sebagai anugerah dari Allah dan timbul dari sumber pemberian Allah”.
Maka bagaimana dia tidak gembira dengan sholat itu, sebagaimana pula dia tidak akan puas dengan sholat itu?
Padahal Allah sendiri telah berfirman yang artinya:
“Katakanlah dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”
(Yunus 58)

Maka ketahuilah, bahwa ayat itu telah memberi isyarat jawaban bagi orang yang mau berfikir akan rahasia khitab (pembicaraan yang terdapat dalam khitab itu) yang artinya:
“Hendaknya dengan itu mereka gembira”. Dia tidak berfirman (yang artinya): “Maka dengan itu bergembiralah, hai Muhammad!, katakanlah kepada mereka: “Maka hendaklah mereka bergembira dengan kebaikan dan keutamaan. Akan tetapi hendaklah kegembiraan itu hanya Dzat yang memberi keutamaan.

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman dalam ayat lain:
“Qulil laahu tsuma dzarhum fii khoudlihim yal’abuun”. Artinya: “Katakanlah: “Allah lah (yang menurunkan nya) kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan” (Al An’am 91)

Maksud kepuasan hati ada di dalam sholat ialah puncak segala kebahagiaan dan kegembiraan serta kelezatan itu terdapat di dalam sholat karena dia telah menyaksikan Allah di dalamnya.

Abu Muhammad Abdul Aziz Al Mahdawy berkata: “Siapa yang tidak melihat pemberi nikmat di dalam nikmat, maka nikmat itu hanya merupakan isfidroj (penglulaon) dan berupa menjadi bala (cobaan).

Dibawah ini dicantumkan beberapa kata khikmat yang diucapkan oleh Ulama salaf/orang-orang dahulu yang sholeh amal perbuatannya umarra diantaranya ialah:

“Lau roaitumul ajala wamasiirohu laabdlodumul amala waghuruurohu”. 
Artinya: “Jikalau kamu semua suka memperhatikan perihal ajal dan jalannya yang begitu cepat niscaya kamu semua akan membenci pada thulul-amal dan berbagai macam tipu dayanya”.

* Thulul amal - panjang angan-angan, atau juga memiliki arti "pengkhayal"
-----------------------------------------------------------------------------------------------
.

“Apabila Allah membukakan bagi engkau jalan untuk mengenal-Nya, maka janganlah engkau ambil peduli tentang sedikit amalan engkau, karena Allah swt tidak membukakan jalan tadi bagi engkau selain Ia nya Allah berkehendak memperkenalkan (Zat-Nya atau sifat-sifat-Nya) kepada engkau.

Tidakkah engkau ketahui bahwa, memperkenalkan itu adalah pemberian Allah atas engkau, sedangkan amal-amal yang engkau kerjakan engkau berikan amal-amal itu untuk Allah dan dimanakah fungsi pemberian engkau kepada Allah apabila dibandingkan pada apa yang didatangkan Allah atas engkau”. - Al Imam Ibnu Athaillah Askandary

Terbuka jalan ini adalah lebih besar nilainya dari pada amal ibadah yang banyak tetapi sunyi atau sedikit sekali ma’rifat kita kepada Allah.

Oleh karena itu maka hamba-hamba Allah yang arif kepada-Nya, kadang-kadang kita lihat amal lahiriah mereka sedikit, tetapi rupanya yang sedikit sedangkan nilainya jauh lebih besar disisi Allah swt.
Karena itulah maka Imam Ghazali telah mengutip Hadist Rasululah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Abu Hurairah ra sbb:

“Tafakkuru saa’atin khairun min ibaadatin sab’iina sanatan”
“Berfikir satu saat adalah lebih baik dari ibadah selama 70 tahun”.

Dari buku:
Hakikat Hikmah Tauhid Dan Tasawuf (Al Hikam)
Oleh: Al Imam Ibnu Athaillah Askandary
Syarah Oleh: Prof. Dr. K.H. Muhibbuddin Waly

Tidak ada komentar: